Renungan Katolik

Renungan Harian Katolik

Renungan Thursday, 08 Mar 2012








Bacaan

  Yeremia 17:5-10
17:5Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
17:6Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
17:7Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
17:8Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
17:9Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?
17:10Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."
  Mazmur 1:1-2,3,4,6
1:1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
1:2tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
1:3Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
1:4Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
1:6sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
  Lukas 16:19-31
16:19"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."
 

Renungan:

Kehidupan orang kaya di dunia memang kelihatan serba enak. Pakaian bagus, makanan berlimpah dan tinggal di tempat yang nyaman pula. Karena keadaan yang serba berkecukupan itu, bisa saja orang kaya lupa akan sesamanya. Sebaliknya kehidupan orang miskin: serba berkekurangan, bahkan untuk memperoleh remah-remah yang jatuh dari meja makan orang kaya tidak bisa. Itulah penderitaan orang miskin. Itulah yang digambarkan dalam Injil dengan tokoh Lazarus. Namun apa yang terjadi setelah kematian: keadaan bisa terbalik. Oleh Tuhan Lazarus dihantar pada situasi yang menyenangkan, dan sebaliknya orang kaya harus mengalami penderitaan.

Kita perlu melihat kembali bagaimana hidup kita. Bisa saja hidup kita berkelimpahan, dan serba nyaman. Dalam keadaan seperti itu, apakah kita lalu terlena dan tidak ingat sesama yang menderita? Atau hidup kita memang sudah penuh dengan penderitaan. Lalu sebagai orang beriman, apakah kita kehilangan harapan dan putus asa, bahkan sampai menyalahkan Tuhan? Peranan Tuhan dalam hidup akan mengarahkan langkah kita menuju pada kebijaksanaan dalam mengambil keputusan dan sikap. Apakah dalam pelbagai situasi hidup, kita melibatkan dan memberi peranan pada Tuhan?

(Mutiara Iman 2012, yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ two = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>