Renungan Katolik

Renungan Harian Katolik

Renungan harian 4 April 2012

Bacaan

  Yesaya 50:4-9
50:4Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.
50:5Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.
50:6Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.
50:7Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.
50:8Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!
50:9Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.
  Mazmur 69:8-10,21
69:8(69-9) Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;
69:9(69-10) sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.
69:10(69-11) Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku;
69:21(69-22) Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.
  Matius 26:14-25
26:14Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
26:15Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
26:16Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
26:17Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?"
26:18Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
26:19Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
26:20Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
26:21Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."
26:22Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"
26:23Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.
26:24Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."
26:25Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."
 

Renungan:

Yudas, oh Yudas. Kita juga mungkin dengan gampang menyesalkan Yudas dan pilihannya. Namun, apakah kita sadar, bahwa keputusan drastis Yudas, bermula dari sebuah hal sangat sepele dan kecil?

Rasa tak puas, kekecewaan pribadi, ketidakcocokan antara keinginan pribadi dan kenyataan lain. Frustrasi, kejengkelan, kemarahan menjadi semakin besar setiap kali keinginan kita tidak tercapai, kebutuhan kita tidak terpenuhi. Dalam keadaan seperti ini, hati kita gampang menjadi marah, kecewa, kesal; hati kita menjadi pahit. Kita menjadi destruktif, tak peduli, bahkan mata gelap.

Menyakitkan juga, Yesus dan Yudas adalah sangat bersahabat, sangat dekat. Itulah juga kenyataan: yang paling disakiti oleh khianat, oleh penolakan kita, biasanya itulah orang yang paling kita cintai, yang paling dekat. Pekan Suci ini mempersilahkan kita, demi cinta pada orang-orang yang paling dekat dengan kita, untuk mewaspadai hal-hal kecil, benih-benih mungil dalam rupa rasa tak puas, kekecewaan yang sering kita pendam dan pelihara. Kita bisa mengungkapkannya lewat dialog penuh kasih, ganti memendam dan memelihara kepahitannya.

  (Renungan Harian Mutiara Iman 2012, Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *