Renungan Katolik

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian 19 Maret 2012

Bacaan

  2 Samuel 7:4-5
7:4Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian:
7:5"Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?
  Mazmur 89:2-3,4-5,27,29
89:2(89-3) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
89:3(89-4) Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:
89:4(89-5) Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela
89:5(89-6) Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.
89:27(89-28) Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.
89:29(89-30) Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit.
  Roma 4:13,16-18,22
4:13Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
4:16Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, —
4:17seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" –di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
4:18Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."
4:22Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
  Matius 1:16,18-21,24
1:16Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
1:18Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
1:19Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
1:20Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
1:21Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."
1:24Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
 

Renungan:

Ada satu keluarga yang hidupnya tenteram dan cara mendidik anak-anaknya sangat baik. Bapaknya seorang pekerja, setiap hari kerja di luar kota dan pulang sudah sore. Pekerjaan itu disyukurinya sebagai bagian dalam rangka membangun rumah tangga. Setiap bulan, gaji diserahkan istrinya untuk mengatur keuangan.

Istri layak dipercaya dalam banyak hal karena tugasnya berat, mengatur kebutuhan rumah tangga dan memberi perhatian kepada anak-anaknya. Sedangkan suaminya menyadari bahwa tanggungjawabnya adalah mencari uang untuk kebutuhan dan ikut memberi suasana damai dan hangat dalam keluarganya.

Ia tidak pernah berbuat hal-hal yang bisa merusak keharmonisan dan kehangatan rumah tangga. Ia setia dan penuh tanggung jawab.

Suami itu mengingatkan kita akan Santo Yusuf, suami Maria yang kita peringati hari ini. Yusuf juga seorang yang pendiam, tetapi penuh tanggung jawab. Ia berpikir dan berjuang demi keharmonisan keluarga. Dengan setia ia menyertai Maria saat melahirkan dalam sebuah kandang; dengan penuh tanggung jawab ia mengungsikan Maria dan Yesus saat terjadi pembunuhan anak-anak dan dengan penuh kesabaran, bersama Maria ia mencari Yesus. Ia banyak diam dalam kata tetapi dari hati dan sikapnya Nampak sekali ia seorang bapak yang baik, setia dan penuh tanggung jawab. Ia pantas menjadi teladan para suami dalam memikirkan keluarga, memperlakukan istri dan mendampingi perjalanan anak-anaknya.

(Renungan Harian Mutiara Iman 2012, yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *