Renungan Katolik

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian 1 Jul 2012

Bacaan

Bacaan pertama

Keb 1:13     Memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap.

Keb 1:14     Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagat menyelamatkan. Di antaranyapun tidak ada racun yang membinasakan, dan dunia orang mati tidak merajai bumi.

Keb 1:15     Maka kesucian mesti baka.

Keb 1:13     Memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap.

Keb 1:14     Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagat menyelamatkan. Di antaranyapun tidak ada racun yang membinasakan, dan dunia orang mati tidak merajai bumi.

Keb 1:15     Maka kesucian mesti baka.

Keb 2:23     Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri.

Keb 2:24     Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.

Bacaan kedua

2Kor 8:7     Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, –dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami–demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

2Kor 8:8     Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.

2Kor 8:9     Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

2Kor 8:13     Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

2Kor 8:14     Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

2Kor 8:15     Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Bacaan ketiga (Markus 5:21-43)

Mrk 5:21     Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau,

Mrk 5:22     datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya

Mrk 5:23     dan memohon dengan sangat kepada-Nya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.”

Mrk 5:24     Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Mrk 5:25     Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

Mrk 5:26     Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.

Mrk 5:27     Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

Mrk 5:28     Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Mrk 5:29     Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Mrk 5:30     Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”

Mrk 5:31     Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”

Mrk 5:32     Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.

Mrk 5:33     Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.

Mrk 5:34     Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

Mrk 5:35     Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?”

Mrk 5:36     Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja!”

Mrk 5:37     Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus.

Mrk 5:38     Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring.

Mrk 5:39     Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!”

Mrk 5:40     Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.

Mrk 5:41     Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!”

Mrk 5:42     Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.

Mrk 5:43     Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorangpun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

 

Renungan:

Dalam bacaan hari ini dalam kitab Paulus, kita dengar akan tindakan Yesus yang dengan pilihannya sendiri merendahkan dirinya sendiri untuk hidup bersama kita. Dengan melakukan ini semua, Dia mengakui akan kekurangan kita, penderitaan, dan segala cobaan yang kita hadapi. Dia berkendak untuk dapat bersama dengan kita dalam menghadapi segala cobaan dan penderitaan yang kita hadapi.

Pada hari ini, banyak di antara kita yang menghadapi segala penderitaan dan keterbatasan fisik, seperti cacat tubuh dan penyakit, seperti kanker. Atau juga penderitaan oleh karena penyakit kejiwaan dan keterbelakangan.
Kita perlu belajar untuk melepaskan semua penderitaan ini dengan secara penuh menerima semua keterbatasan kita, sebagaimana Yesus sendiri juga memberikan dirinya sendiri kepada manusia dalam segala keterbatasan nya.

Apakah dengan ini kita berarti tidak mengembangkan kreatifitas dan kerja keras kita, untuk menyembuhkan dan memberikan kemudahan bagi orang cacat? Tidak, kita masih harus berdoa untuk kesembuhan dan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Namun kita harus sadar, bahwa kita hanya dapat menemukan sumber keutamaan utama dalam Tuhan sebagai sumber kasih dan pengharapan kita.

Marilah kita berdoa, agar kita dapat selalu sadar bahwa dalam menghadapi semua keterbatasan dan cobaan ini untuk selalu berdoa dan menyerahkan semua ke dalam tangan Nya, sebagai sumber pengharapan kita.

(Sumber: US Conference on Catholic Bishops)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *